Jumat, 13 Maret 2009

Peluncuran Buku Ketiga Sumbo Tinarbuko ‘’Iklan Politik dalam Realitas Media’’



Peluncuran Buku Ketiga Sumbo Tinarbuko ‘’Iklan Politik dalam Realitas Media’’ terbitan penerbit Jalasutra 2009, di Gedung JEC Yogyakarta, 13 Maret 2009:

Setiap akan diadakannya Pemilihan Umum Legislatif atau Presiden, perhatian, pikiran dan enerji para elit politik dicurahkan untuk menyiapkan kampanye politik, mengadakan konsolidasi, mengunjungi tempat-tempat umum, menemui rakyat kebanyakan, membagikan pamflet dan kartu nama, memasang foto diri di jalanan, mengirim pesan singkat ke masyarakat, mengaktifkan website, berbicara di radio-radio dan memasang iklan diri di media elektronik.

Dalam politik abad informasi, citra politik seorang tokoh, yang dibangun melalui aneka media cetak dan elektronik—terlepas dari kecakapan, kepemimpinan, dan prestasi politik yang dimilikinya—seakan menjadi sebuah ‘mantra’ yang menentukan pilihan politik. Melalui ‘mantra elektronik’ itu persepsi, pandangan dan sikap politik masyarakat dibentuk bahkan dimanipulasi. Politik kini menjelma menjadi ‘politik pencitraan’, yang merayakan citra ketimbang kompetensi politik—the politics of image.

Terkait dengan itu, Sumbo Tinarbuko menyusun tulisan seputar iklan politik yang dibukukan oleh penerbit Jalasutra Yogyakarta dengan judul ‘’Iklan Politik dalam Realitas Media’’. Buku ketiga Konsultan Desain dan Dosen Desain Komunikasi Visual FSR ISI Yogyakarta ini akan diluncurkan pada 13 Maret 2009, jam 15.00 di gedung JEC Yogyakarta, bersamaan dengan pameran buku tingkat nasional yang diselenggarakan oleh IKAPI.

Berikut ini tulisan Yasraf Amir Piliang yang merupakan guru bangsa sekaligus sahabat Sumbo Tinarbuko yang berkenan menuliskan kata pengantar bukunya, sebagai berikut:

Narsisisme Politik: Banalitas, Simplisitas dan Minimalitas
Oleh Yasraf Amir Piliang

Bagaimanakah kecenderungan narsisisme, simplisitas dan nihilisme dalam dunia politik bangsa di atas, memberikan implikasi pada iklan politik—baik iklan cetak maupun televisi—sebagai bentuk komunikasi politik dominan abad informasi, serta bagaimana ia berkaitan dengan aspek-aspek desain komunikasi visual? Jelas, desain komunikasi visual mempunyai peran sangat sentral dalam merumuskan komunikasi politik abad informasi, karena melalui citra-citra visual itulah pesan-pesan politik secara efektif dapat disampaikan.

Akan tetapi, di dalam iklim komunikasi politik yang penuh muatan manipulasi, retorika, seduksi, narsisisme, simplisitas, banalitas dan ‘sampah visual’ macam itu, konstituen politik dan masyarakat politik pada umumnya cenderung dimanfaatkan sebagai ‘alat’ perburuan kekuasaan semata, dengan memanipulasi pikiran, kesadaran, emosi dan persepsi mereka, tetapi sama sekali tidak ada reward bagi mereka, berupa pencerdasan, pengetahuan dan pencerahan politik. Dalam kondisi asimetris macam ini, massa politik digiring untuk menjadi ‘mayoritas tak-kritis’ (uncritical majorities).

Dalam kondisi politik tanpa pencerahan dan daya kritis di atas, kehadiran buku Sumbo Tinarbuko, Iklan Politik Dalam Realitas Media, mempunyai peran yang sangat penting dalam membangun kembali ‘kesadaran kritis’ (critical consciousness) tersebut, yang secara sistematis dirusak dan dihancurkan dalam wacana politik mutakhir yang penuh manipulasi. Hanya melalui kesadaran kritis itulah, masyarakat politik dapat lebih cerdas membedakan antara kebenaran dan kepalsuan, citra dan substansi, penampilan luar dan kapasitas diri, ilusi dan realitas politik.

Iklan politik, sebagaimana dikemukakan dengan menarik di dalam buku ini, tidak ada bedanya dengan iklan komersial, yang di dalamnya antara gemerlap citra-citra yang ditampilkan dan realitas yang sesungguhnya terdapat jurang yang dalam. Citra-citra tentang ‘cinta rakyat kecil’, ‘peduli orang miskin’, ‘sahabat petani’, ‘peduli pendidikan’ atau ‘pembela nurani bangsa’ tak lebih dari citra-citra indah dan menyilaukan, yang berputar-putar di dalam ruang pertandaan dan semiotik (the semiotic space), tetapi tak pernah menyentuh dan direalisasikan di dunia kehidupan nyata.

Buku ini secara cerdas mencoba merelasikan iklan politik sebagai sebuah ‘realitas kedua’ (second reality) dengan aspek-aspek komunikasi visual yang berperan membangun citra-citra di dalamnya, serta relasi-relasi sosial dan kultural yang terbangun. Penyertaan pandangan beberapa pakar komunikasi politik tentang iklan politik di dalam buku ini, dapat mempertegas lukisan realitas komunikasi politik yang ada. Melalui lukisan komprehensif itulah, pada akhirnya, penulis buku ini mengajak kita untuk mengembangkan imajinasi prospektif tentang iklan politik yang ideal, yang bila tak mampu dilakukan akan menggiring pada kondisi ‘kematian iklan politik’. Selamat berimajinasi!.

•••

3 komentar:

KiosOnline mengatakan...

Halo, yang ini ternyata masih sepi juga ya...

Saya promosi nih, Bung.
ada baiknya anda menyimak blognya joko susilo di http://www.jokosusilo.com

kemudian baca juga eBook-nya joko susilo, SMUO-Sistem Mesin Uang Otomatis bisa download di: http://www.formulabisnis.com/?id=didikoseng

ada panduan mengenai membuat blog ramai dikunjungi, dan banyak lagi tentang bisnis di internet.

saya sudah baca sedikit.

salam.

deadlinejuice mengatakan...

selamat ya Pak Sumbo atas peluncuran buku ketiganya....mungkin agak terlambat tapi....OK

its about dedication..

Hafidz mengatakan...

asslamualaikum pak sumbo..Pak kira-kira dimana ya saya bisa mendapatkan buku ini?
Saya mahasiswa dari malang butuh banget buku bapak sebagai sumber referensi tugas akhir. Saya cari muter-muter di toko buku pasti habis, begitu juga di toko online.
Barangkali bapak bisa membantu
Trims